Thursday, June 25, 2009

Harga Propaganda (Suatu Pendekatan Historis)

Oleh Yusra Habib Abdul Gani

PROPAGANDA
pada gilirannya dipandang sebagai suatu disiplin ilmu perang dan diakui oleh para ahli sejarah sebagai salah satu alat ampuh memenangi suatu peperangan, setidak-tidak dengan cara ini kurang resiko, murah biaya dan hasilnya mengagumkan. Betapa tidak, sejak dari tahun 1480 hingga tahun 1977, sudah terjadi kira-kira 2.610 peperangan besar di atas dunia yang kita huni ini. Peperangan tersebut telah menyeret negara-negara Eropa, Amerika, Jepang dan termasuk Aceh, Papua dan Republik Maluku Selatan. Dari angka tersebut Perancis terlibat 47%; Austria-Hongaria 34%; Jerman 25%; Inggeris 25%; Turki 15%; Sepanyol 12% dan Belanda 8%.


Khususnya Belanda, telah terlibat dalam perang paling dahsyat dan paling lama dalam sejarahnya Belanda ialah: perang melawan Aceh, dari tahun 1873-1942. Ternyata sebagian besar yang keluar sebagai pemenang dalam perang tersebut diperoleh karena kekuatan Propaganda. Ketika meletus Perang Dunia ke-I tahun 1914-18, Presiden Wilson dari Amerika Serikat berjanji akan memberikan hak untuk menentukan nasib diri-sendiri (self determination) bagi bangsa-bangsa Eropa Timur, yang saat itu dijajah Austria-Hongaria, Jerman dan Turki. Para ahli sejarah sudah sepakat mengatakan bahwa kemenangan pihak tentara Sekutu dalam perang Dunia ke-I adalah karena propaganda.

Begitu pula sebelum mencapai klimaks Perang Dunia ke-II tahun 1945, kemenangan Jerman di Scandinavia, Belanda, Belgia, Perancis dan di negara-negara Balkan, dalam realitasnya sangat ditentukan oleh kelicikan agen-agen Jerman, dimana "pasukan Kelima" yang membuka pintu negara-negara dijajah kepada tentara Jerman. Usaha tersebut ternyata berhasil, juga karena kakuatan propaganda. Pada masa meletus perang Aceh-Belanda priode ke-II (25. Desember 1884), Belanda mamakai propaganda untuk mempengaruhi opini masyarakat dunia. Misalnya: Van Sweten mengeluarkan pernyataan spektakuler: "Acheh sudah kita takluki dan kini selesailah sudah tugas berat, yang selama ini sangat mengganjal Belanda".

Untuk itu, Van Sweten nekad memberi laporan falsu kepada Ratu Belanda. Akibat pernyataan Sweten, serdadu Belanda yang berada dalam barak-barak militer di pulau Jawa berjingkrak-jingkrak kegirangan. Untuk menyambut 'kemenangan' ini, dalam benteng-benteng pertahanan Belanda di Jawa dan dalam Kraton-kraton Jawa didentumkan meriam 21 kali. Di Belanda sendiri, kabar 'kemenangan' ini dimuat pada halaman muka seluruh surat-surat kabar terkemuka, padahal yang terjadi di lapangan adalah Belanda berada dalam keadaan sekarat, terdesak oleh kekuatan tentara Acheh. Dunia internasional dan rakyat Belanda terbius dengan omongan Van Sweten, sehingga mereka memberi sokongan penuh kepada Belanda. Barulah setelah terbukti bahwa Van Sweten menipu, dia dipecat dan akhirnya dia mendirikan suatu partai politik baru untuk melawan kebijaksanaan Belanda di Aceh melalui Parlemen.

Sebelum masuk ke Sumatera (khususnya ke Aceh April 1942), Jepang menyebar propaganda, bahwa akan membantu mengusir Belanda dari bumi Aceh. Dengan begitu, Jepang malah diundang masuk ke Aceh, dijemput oleh Said Abubakar ke Pulau Pinang, sementara kalangan Ulèëbalang dan PUSA, pimpinan Tengku Daud Beureuéh mengerahkan rakyat Acheh turun ke jalan-jalan utama yang dilalui pasukan Jepang. Sesudah beberapa bulan, barulah Jepang memulai perbuatan biadabnya. Kaum Ulèëbalang dan Ulama PUSA --si penjilat-- menjelang kemerdekaan RI tahun 1945, Jepang memakai propaganda, dengan menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia. Untuk itu dibentuk BPUPKI yang 90% dari 70 anggota Badan ini adalah orang Jepang. Ketika itu, politisi Indonesia (Sukarno Cs) ikut saja telunjuk Jepang. Maksudnya supaya Jepang lebih leluasa di Indonesia. Untung Jepang menyerah kepada tentara sekutu setelah kota Nagasaki dan Hirosima dibom oleh Amerika. Tapi itu, soal lain.

Jika propaganda Jepang untuk menjajah Asia Tumur Raya, lain pula dengan propaganda Sukarno. Kepada Tengku Daud Beureuéh secara pribadi Sukarno berkata: "Indonesia akan dimerdekakan sebagai negara berdasarkan Islam, oleh sebab itu orang Aceh supaya membantu saya memerdekakan Indonesia". Dengan bisikan Sukarno, Ulama Aceh: (1). Teungku Hasan Kreung Kalé, (2). Tengku Daud Beureuéh, (3). Teungku Hasbalah Indrapuri dan Tuanku Mahmud, terperangkap dalam politik Sukarno hingga mengeluarkan fatwa supaya orang Aceh mau menyabung nyawa dalam perang di tanah Jawa (perang Surabaya dan Bandung) dan kalau mati: hukumnya mati syahid. Negeri sendiri (Aceh) masih tidak menentu, pejuang Aceh menggadai nyawa untuk kepentingan orang lain. Apa kesudahannya? Indonesia dibentuk berdasarkan Pancasila.

Ramai orang Aceh mati dalam perang Surabaya yang tidak memberi manfaat apa pun kepada Aceh. Kemudian, Sukarno berpidato di Meulaboh tahun 1948. Dia bilang: "Aceh adalah daerah modal". Orang Acheh terlena dan bangga degan julukan tersebut, sampai-sampai orang Aceh mau berkorban membeli dan menyerahkan 2 Pesawat Terbang untuk kepentingan diplomasi Indonesia ke luar negeri. Bahkan ada yang membayar dengan –Obligasi– Terakhir diketahui, surat Obligasi tersebut semua musnah sewaktu meletus konflik Darul Islam di Aceh. Demikian pengakuan Teungku Mansyur, Sekretaris Teungku Daud Beureuéh kepada penulis.

Untuk menghentikan pergolakan DI-TII 1953-1961, Rezim Sukarno menjanjikan bahwa: Aceh diberi status daerah Istimewa dalam bidang: agama, pendidikan dan kebudayaan. Ternyata, sampai Tengku Daud Beure-éh mati, yang dijanjikan tidak pernah wujud. Kado "Daerah Istimewa" yang dibawa oleh Mr. Hardi ke Aceh hanya cèk kosong. Ketika Habibie berkuasa, dia bilang: ”… orang Aceh akan disantuni dengan sebaik-baiknya, akan diberikan ganti rugi kepada para korban DOM semasa rezim Suharto, akan dibangun sistem transportasi kereta Api lintasan Aceh-Lampung.” Sampai kuasanya tamat, tidak terbukti.

Ketika Abdurrahaman Wahid (Gusdur) berkuasa. Dia bilang: "Kalau di Timor Timur bisa dilaksanakan referendum, mengapa di Aceh tidak?". Di belakang layar, dia buat resep bom (Kepres No.IV/2001) untuk membunuh bangsa Acheh, bom itu diledakkan di merata tempat di Acheh. Sampai Gusdur digusur, pembantaian demi pembantaian terhadap bangsa Acheh yang berlaku. Saat kampanye PDI-P di Acheh, Megawati sambil menangis: "Kalau PDI-P menang, akan dilaksanakan referendum dan setetes darah pun tidak tumpah di Aceh". Sewaktu penjabat Wapres dan sesudah dilantik sebagai Presiden, dia berjanji: "akan memberi kado (hadiah) dalam rangka ulang tahun RI kepada rakyat Aceh". Kadonya berisi: "pasukan khusus membunuh 43 orang Aceh di Julok Peureulak", terjadi bertepatan pada hari pelantikan kabinetnya, 9. Agustus 2001.

Berselang beberapa hari kemudian dibantai lagi 9 orang (saksi utama). Kado lain ialah: UU. No 18/2001 (UU-NAD). Aceh diberi 70% dari seluruh kekayaan Aceh dan 30% untuk Pusat selama delapan tahun. Setelah itu, 50%, untuk Aceh, untuk pusat 50%. Kado ketiga memberlakukan Kepres No. 19/2003, Aceh dinyatakan sebagai wilayah Darurat Militer di Aceh (priode 2003-2004), yang mengorbankan ribuan orang Aceh mati. Ingat, "Suatu bangsa tidak akan mati karena menginsafi kesalahan yang pernah diperbuatnya dan suatu bangsa akan mati jika mengulangi kembali kesilapan yang pernah dibuatnya" (Van Sweten). Wallahu'aklam bissawab![]
[Media Kutaraja, 09/09/2001]

Read More......

Sunday, June 21, 2009

Falsafah “Tari Guel”


Oleh Yusra Habib Abdul Gani*





ASBABUN nuzul “Tari Guel”, bermula dari riwayat pembunuhan Bener Merie oleh Raja Linge ke-XIII. Keduanya saudara satu Ayah (Johansyah). Ibu Raja Linge ke-XIII orang Gayo asli, sementara Ibu Bener Merie adalah Putri Johor. Kronologi sejarahnya jelas, tetapi ketika alur cerita itu sampai pada bab Gajah Putih yang ditemukan sedang bersimpuh di atas pusara Bener Merie, kononnya penjelmaan dari Bener Merie, berdasarkan mimpi Sengeda (saudara kandung Bener Merie yang luput dari pembunuhan berencana ini). Mimpi Sengeda benar dan tidak perlu interpretasi. Sampai sekarang, kuburan Bener Merie masih tegak berdiri, walau pun kurang perawatan dan sejarah Gajah Putih adalah juga diakui keabsahannya. Masalahnya; kebanyakan orang Gayo sudah telanjur mempercayai, bahwa “Tari Guel” adalah wujud dari legenda: Bener Merie, Sengeda dan Gajah Putih. Kekeliruan sejarah ini perlu diluruskan.

Sebenarnya, “Tari Guel” itu adalah ‘Mesium gerak tanpa bangunan’, tempat menyimpan sejarah Gayo, agar orang tidak mudah melupakannya. Hingga sekarang, masih banyak fakta sejarah Gayo tercècèr dan disimpan dalam bentuk “kekeberen”, puisi dan pantun. Hal ini bisa dimaklumi, karena keterbatasan fasilitas pada masa itu. Imaginator menafsirkan fakta sejarah tadi ke dalam gerak “Tari Guel”. Selain daripada itu, imaginator ingin mengambarkan “aurat” orang Gayo yang tak pantang membunuh saudara sendiri, jika dirasa perlu untuk itu. Riwayat pembunuhan Bener Merie oleh saudara sedarah, bukanlah satu-satunya peristiwa dalam peradaban orang Gayo. Kisah Merah Mege (anak bungsu Muyang Mersa) membuktikan bahwa: ketika enam saudara kandungnya menunaikan niat jahat dengan mengikat dan menjatuhkan adiknya ke dalam Sumur tua dalam rimba. Dengan kuasa Allah SWT, Merah Mege selamat dan tidak jadi mati. Motif pembunuhan Merah Mege dan Bener Merie semata-mata karena khawatir kehilangan pengaruh, kuasa, irihati dan dengki. Jadi, peragaan “Tari Guel” adalah penyingkapan fakta, rahasia (aurat) orang Gayo yang sungguh memalukan, mengharukan, memilukan sekaligus peringatan.

Selebihnya, imaginator ingin menitipkan pesan-pesan kehidupan yang hanya bisa ditangkap lewat pendekatan falsafah. Artinya: salam semah dalam gerak “Munatap”, “Redep”, “Ketibung”, “Kepur Nunguk”, “Sènèng Lintah”, “Sèngkèr Kalang” dan “Cincang Nangka”, selain menyinggung aspek sejarah, juga mengandung falsafah moral, eksistensialisme, humanisme, realisme, futurisme, sekaligus menghubungkannya dengan emosional, romantika, dinamika dan problematika kehidupan orang Gayo itu sendiri. Gerak “Munatap” menggambarkan eksistensi diri dan kesadaran, di mana Gajah Putih yang enggan bergeming (bersimpuh) sadar sambil menatap realitas yang asing. Eksistensi diri dan kesadaran tadi mengkristal, setelah dirangsang oleh Sengeda dengan gerak diiringi irama, yang kemudian disebut “Tari Guel” (“Tari berirama”), agar Gajah Putih bangkit bersaksi; merubah diam menjadi aksi; memecah kebekuan jiwa agar larut dan menyatu dalam kemajmukan nilai-nilai; membangunkan kematian menjadi hidup dan mewujudkan mimpi menjadi kenyataan. Pada tahap gerak “Munatap”, yang dituntut hanya kesadaran diri, pengakuan dan pengenalan secara menyeluruh. Hal ini berhubung langsung dengan karakteristik orang Gayo, pada umumnya baru sadar dan beraksi setelah dirangsang terlebih dahulu.

Dalam gerak “Redep”, bahu dan tangan bergerak lentur dan bervariasi. Jari-jemari penari sesekali terbenam dalam lipatan “Opoh Ulen-ulen”. Tahap ini adalah proses belajar, meniru dan berpikir. Di sini, gerak dan irama yang dimainkan lebih cepat, walau tidak terlalu lama. Ini mengajarkan: berpikir dan gerak cepat jika mau dapat dan selamat. Gerak “Redep” lewat dan segera menuju ke gerak lain, yakni: gerak “Ketibung”, yang ditandai dengan hentakan kedua kaki berkali-kali secara bergantian ke bumi; mengangkat dan menurunkan atau memutar-mutar kedua tangan, dikombinasi dengan sorotan mata yang tajam. Inilah tahap pengetahuan dan pemahaman, di mana manusia berhadapan dengan dua pilihan: menginjak atau diinjak: membunuh atau dibunuh; Tuan atau budak; menguasai atau dikuasai (penguasa atau hamba). Kata: “ketibung” dalam bahasa Gayo, lazimnya dipakai bagi gadis-gadis yang mandi di kolam atau di sungai, membunyikan air dengan kedua tangannya; yang dalam tari ini diisyaratkan dengan variasi gerak tangan dan kaki, sebagai refleksi dari gelora pikiran dan luahan jiwa. Itu pula alasannya, hingga dalam sastera Gayo, gejolak hati kerap digambarkan dalam lirik: “berketibung iwanni jantung, berjunté iwanni até” (“bergejolak dalam jantung, bersemi dalam hati”).

Gerak “Kepur nunguk”, yang mengepak-ngepakkan “Opoh Ulen-ulen”, sambil berputar-putar, maju dan mundur. Gerakannya sangat agresif dan menantang. Tahap ini menggambarkan proses klarifikasi masalah, yang menuntut semua anasir atau “debu-debu” yang menodai supaya disingkirkan. Artinya: tangan siapa sih yang tidak kotor? Tangan kita telah mengotori negara, maruah bangsa, budaya dan bahasa. [Kata: “kepur” dalam bahasa Gayo berarti mengusir debu-debu (kotoran) yang melekat pada kain atau tikar dengan tangan, bukan dengan penyapu. Mengapa? Sebab tangan mempunyai konotasi kekuasaan yang bisa merubah, memperbaiki atau menjahannamkan.

Gerak “Sènèng Lintah” atau “Sèngkèr Kalang”, yang geraknya menggelepar, memiringkan tubuh bagaikan gerak burung Elang yang mau menyambar mangsa. Inilah gerak burung Elang yang terbang melayang, melingkar dan menukik dengan memiringkan badan untuk melihat dan memastikan posisi mangsa atau gerak lintah yang meliuk-liuk dalam air yang berarti: masalah mesti di lihat bukan dari satu arah saja, tetapi didekati dan dikaji dari berbagai sudut pandang. Kata “Sènèng” dan “Sèngkèr” dalam bahasa Gayo bermakna: melirik atau memantau dengan gerak miring. Gerak ini menggambarkan tahap/peringkat aksi, cermat, konsentrasi dan terarah.

Gerak “Cincang Nangka” merupakan rangkaian terakhir, aksi memasukkan diri ke dalam kemajemukan. Yang berarti: makna individu larut dalam kebersamaan. Yang dituntut bukan lagi keserasian gerak, melainkan penyatuan perasaan dan emosi. Tahap ini menunjukkan bahwa apa pun masalah, mesti diselesaikan dengan mengikut sertakan orang lain.

“Tari Guel”, yang dimainkan tanpa syair oleh penari tunggal diiringi irama (menabuh) Canang dan Gong, sarat dengan nilai-nila kehidupan. Ianya, dipersembahkan dalam upacara perkawinan atau menyambut tetamu agung. Sebab inilah peluang terbaik untuk menyingkap segala-galanya, mendo’akan agar bahagia dan sejahtera, yang disimbulkan dengan menabur beras-padi dan air tepung tawar oleh Pengulu Mungkur. Persembahan tari ini kepada tamu asing, hanya sekedar ingin memperlihatkan ‘inilah Gayo’ yang suka berkata: “Yang penting iman kita mesti kuat dan menjaga adat nenek moyang” dan “Adat-istidat adalah pagarnya agama”. Jadi, “Tari Guel” boleh juga dikatakan sebagai “talqin”, agar orang Gayo terangsang, bergairah dan berani bangkit bersaksi atas nama kebenaran sejarah, jika tidak ingin mampus martabat dan maruahmu.

* Director Institute for Ethnics Civilization Research.
[Serambi Indonesia, 21 June 2009]

Read More......

Saturday, June 6, 2009

Musim “Stockholm syndrome”

Oleh Yusra Habib Abdul Gani*

ISTILAH “Stockholm syndrome” muncul pertama dalam sejarah psychology modern, setelah peristiwa perampokan bersenjata yang dilakukan oleh Jan Erik Olson, dengan menyandera pegawai “Kreditbanken” di jantung kota Stockholm selama enam hari (tgl. 23 - 28/08/1973). Belum setengah jam setelah kejadian, Polisi Swedia mengepung. Olson menembak seorang anggota Polisi yang merambah masuk. Anggota polisi yang luka tembak diselamatkan, sementara itu, para sandera diperintahkan duduk di kursi dan Olson menyanyikan lagu “Lonesome Cowboy” guna menghiburnya.
Ulah penyandera bikin pihak berkuasa dan Polisi geram dan marah, apalagi Olson menelefon Perdana Menteri Swedia, Olof Palme, yang nadanya mengancam akan membunuh semua sandera sambil mendengarkan suara jeritan, kalau tuntutannya tidak dipenuhi. Olof Palme sempat menyatakan rasa kesalnya atas sikap Polisi yang dinilai kurang agresif yang seolah-olah membiarkan perampok bebas dan para sandera menderita.

Padahal sesungguhnya, Polisi sedang menyususn taktik dan negosisasi dengan penyandera dengan maksud mengelak terjadi kontak senjata dan korban jiwa.
Dalam rentang enam hari itu, yang dihadapi serentak oleh penyandera ialah Penguasa, Polisi serta para sandera. Olson berhasil membangun rasa persahabatan -musuh yang mesti dimusuhi- saling percaya, mengubur kebencian dan merapatkan emosinya dengan para sandera. Hubungan emosi yang diciptakan Olson tak ubahnya seperti “emosi atau naluri anak baru lahir untuk membentuk suatu emosi yang akrab dengan orang dewasa, saling mengenal dan menghargai.” Frank M. Ochberg & David A. Soskis. “Victims of Terrorism”. Boulder Colorado: Westview Press, 1982. Penampilannya intelek, prilakunya menarik dan dalam situasi yang genting, Olson menyanyikan lagu Roberta Flack’s berjudul: “Killing Me Softly” yang membuat para sandera merasa kagum dan simpatik kepadanya. Pada 26. Agustus, Polisi coba melobangi dinding dengan perkiraan bisa menditeksi posisi sandera dan penyandera, tapi gagal.

Pada 28 Agustus, dalam pembicaraannya dengan Perdana Menteri Swedia, Olson mengancam membunuh para sandera dengan memakai gas. Dia menyandera 4 orang dalam bilik jerjak besi dan meminta tebusan supaya rekannya (Clark Olofson yang meringkuk dalam penjara), dihantar ke sana dengan membawa uang tiga million Kronor ($730,000 US 1973), dua pucuk senjata lengkap dengan peluru, pakaian tahan peluru dan mobil cepat. Bagaimana pun, atas izin dari pihak Penguasa dan Dinas inteligen, Olofson akhirnya diangkut dan masuk Bank bersama beberapa personil Polisi sebagai negosiator. Olson dan Olofson menghalangi Polisi merapat ke ruang jerjak besi, tempat 4 orang sandera. Juru runding setuju memenuhi semua perintah Olson, termasuk memberi sebuah mobil cepat untuk melarikan diri, tapi tidak mengizinkan membawa serta 4 orang sandera, jika mau selamat. Satu jam setengah kemudian mereka menyerah.
Kristin Enmark, seorang sandera mengaku bahwa mereka merasa lebih terjamin dan selamat bersama Olson dan Olofson.

Rasa simpatik, bukan saja diperlihatkan selama disekap enam hari, melainkan juga di luar, sesudah mereka bebas. Para sandera sering mengunjungi, mengirim kartu ulang tahun, mengantar makanan ke Penjara. Selama 10 tahun meringkuk dalam Penjara, Olson banyak menerima surat simpatik dari wanita-wanita yang pernah dikenalnya selama ini, bahkan berjanji kepada salah seorang, bila sampai saatnya nanti, akan mengajaknya untuk melakukan ‘unlawful activities’. Kristin Enmark berjumpa dan menganggap bekas penyanderannya itu sebagai teman akrab dan menyatu dalam famili Kristin Enmark. Semua ini Olson lakukan, berkat inspirasi dari film Norrmalmstorg, dibintangi oleh Håkan Lindhé yang disiarkan TV Swedia pada August 29, 2003.

Inti dari “Stockholm syndrome” ialah: gejala atau perubahan prilaku jiwa orang-orang yang disandera, dirampas kemerdekaannya, dizalimi, diteror dan trauma berubah secara ektreem dari rasa membenci menjadi cinta dan simpatik kepada penyandera mereka. “Unsur yang paling penting dalam “Stockholm Syndrome” ialah: tidak didapatinya perkataan kasar dan penjagaan ketat dari penyandera, sehingga lebih mudah dimengerti, mengapa ada sokongan para sandera, cinta dan merasa saling ketergantungan sesama mereka. Setiap syndrome mempunyai beberapa gejala, tapi “Stockholm Syndrome” merupakan pengecualian.” Dr. Joseph M Carver, PhD. “Love and Stockholm Syndrome”. Korban “Stockholm syndrome” sama sekali tidak menyadari kalau mereka dalam aksi penjagaan.

Inilah yang kebanyakan terjadi dalam ‘psychologically traumatic situations’ dimana mereka tidak pernah tahu epilognya. “Stockholm Syndrome” menyertakan ikatan emosional yang dalam dan saling memerlukan.” Dee L.R. Graham, Edna Rawlings, Nelly Rimini. “The Stockholm Syndrome: Not Just For Hostages.”
Gejala (sympthom) kejiwaan ini menjadi objek menarik untuk dikaji dalam laboratorium psykology. Bayangkan saja, mereka justeru lebih takut kepada polisi yang kemungkinan menambah runyam masalah oleh sebab menggunakan pendekatan kekerasan dalam menyelesaikan kasus ini. Yang tidak kurang menariknya adalah: “They clearly sympathized with their captors, which has led to academic interest in the matter.” Kata Kriminolog Nils Bejerot.

Berdasarkan analisis psycholog ini disimpulakn bahwa: Natascha Kampusch (10 tahun) yang diculik oleh Wolfgang Priklopil selama delapan tahun di Austria, menderita “Stockholm syndrome.” Dia sukar menyembunyikan rasa sedih dan simpatik kepada penculiknya yang mati bunuh diri. Begitu pula Patty Hearst, pewaris millioner, diculik oleh “Symbionese Liberation Army.” Setelah dua bulan, Patty ikut serta menyusun strategi perampokan yang dilakukan bersama. Pengacaranya gagal membela, kalau kliennya mengidap “Stockholm syndrome”. Kemudian Patty sadar dan meminta pengurangan hukuman kepada Presiden Jimmy Carter tahun 1979 dan barulah menerima pemaafan dari Presiden Bill Clinton.

“Stockholm Syndrome” bisa saja terjadi dalam lingkungan keluarga dan hubungan persahabatan. Charles T. Brusca malah lebih jauh mengaitkan dengan politik dan ideologi. “Rentang masa yang panjang, memungkinkan mereka merapatkan emosi dan rasa ‘human being’ antara para sandera dengan penyandera, terutama saat berhadapan dengan masalah politik atau ideology. Ianya bisa berubah menjadi familiar, bertukar pandangan dan sejarah mereka menentang penguasa. Sampai akhirnya percaya, bahwa penyadera itu berada pada posisi yang benar.” Charles T. Brusca “Psychological Responses to Terrorism.”

Demikianlah duduk perkaranya. Jadi, “Stockholm syndrome” merupakan suatu pengajaran penting tentang prilaku labil (multi dimensi) manusia . Apalagi jika dikaitkan dengan politik dan ideology. Rasa dendam dan kebencian terhadap seseorang atau satu kelompok, karena terbukti telah melakukan kejahatan kamusiaan yang menghancurkan martabat dan peradaban manusia, bisa bertukar menjadi idola, hormat, tempat mengadu dan simpatik kepada sipenjahat kemanusiaan itu, bahkan untuk menyatakan kesetiaannya, mereka memilih sipenjahat itu menjadi Imamnya (pemimpinnya). Sekarang, lagi musim sakit jiwa karena mengidap “Stockholm syndrome”. Hati-hati.

* Director Institute for Ethnics Civilization Research.
[Serambi Indonesia, 6/06/2009]

Read More......